{"id":591,"date":"2026-07-13T08:19:47","date_gmt":"2026-07-13T08:19:47","guid":{"rendered":"https:\/\/insanindonesia.web.id\/2026\/07\/13\/prabowo-tegaskan-tni-polri-dan-asn-harus-digaji-layak-agar-tak-memeras-rakyat-dan-korupsi\/"},"modified":"2026-07-13T08:19:47","modified_gmt":"2026-07-13T08:19:47","slug":"prabowo-tegaskan-tni-polri-dan-asn-harus-digaji-layak-agar-tak-memeras-rakyat-dan-korupsi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/insanindonesia.web.id\/?p=591","title":{"rendered":"Prabowo Tegaskan TNI-Polri dan ASN Harus Digaji Layak Agar Tak Memeras Rakyat dan Korupsi"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2014 Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kesejahteraan aparatur negara sebagai langkah strategis dalam mencegah praktik pemerasan dan tindak pidana korupsi di tubuh birokrasi. Dalam pidatonya yang penuh semangat, Kepala Negara menyatakan bahwa pemberian gaji yang layak bagi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara RI (Polri), Aparatur Sipil Negara (ASN), tenaga pendidik, dan tenaga kesehatan merupakan prioritas utama pemerintahannya. Menurut Prabowo, kesejahteraan aparatur menjadi kunci fundamental untuk membangun pemerintahan yang bersih, profesional, dan berintegritas tinggi.<\/p>\n<p>Pernyataan penting tersebut disampaikan oleh Presiden Prabowo saat menghadiri puncak peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 Tahun 2026 yang digelar di Indonesia Arena, Jakarta, pada hari Minggu (12\/7\/2026). Acara yang dihadiri oleh ribuan peserta dari berbagai elemen masyarakat dan organisasi koperasi di seluruh Indonesia ini menjadi momentum bagi Presiden untuk menyampaikan visi dan misi pemerintahannya dalam membangun tata kelola pemerintahan yang lebih baik dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\n<p>&#8220;Guru-guru butuh gaji yang baik, dokter-dokter, perawat-perawat butuh gaji yang baik, tentara dan polisi butuh gaji yang baik supaya mereka tidak memeras dari rakyat. Pegawai negeri butuh gaji yang baik supaya mereka tidak korupsi,&#8221; tegas Prabowo di hadapan ribuan peserta yang hadir dalam acara tersebut. Pernyataan tegas ini mendapat sambutan meriah dan gemuruh tepuk tangan dari para hadirin yang sepakat bahwa kesejahteraan aparatur merupakan fondasi penting bagi pembangunan bangsa.<\/p>\n<h2>Potensi Kekayaan Indonesia dan Keprihatinan terhadap Korupsi<\/h2>\n<p>Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo juga mengungkapkan data yang mencengangkan mengenai potensi kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia. Ia menyebutkan bahwa total aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang telah berhasil dikonsolidasikan oleh pemerintah saat ini telah mencapai sekitar 1 triliun dolar Amerika Serikat atau setara dengan lebih dari Rp15.000 triliun. Angka fantastis ini menunjukkan bahwa Indonesia sejatinya memiliki sumber daya ekonomi yang sangat besar dan melimpah yang dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.<\/p>\n<p>Namun demikian, Presiden juga menyayangkan secara mendalam masih maraknya praktik korupsi yang terus menggerogoti kekayaan negara dan merugikan keuangan publik. Ia menegaskan bahwa praktik korupsi merupakan kejahatan luar biasa yang tidak hanya merugikan negara secara materi, tetapi juga menghambat pembangunan dan mencederai rasa keadilan masyarakat. Karena itu, Prabowo kembali mengingatkan secara keras kepada para pelaku korupsi agar segera menghentikan tindakan mereka dan secara sukarela mengembalikan aset-aset yang telah diambil secara ilegal dan menjadi hak rakyat.<\/p>\n<p>&#8220;Hentikan, rakyat tidak bodoh. Hentikan, kembalikan kekayaan rakyat, kembalikan dengan baik. Kita bangsa pemaaf, tapi rakyat butuh keadilan, rakyat butuh kesejahteraan. Rakyat butuh sekolah yang baik,&#8221; tegas Presiden dengan nada penuh penekanan dalam pidatonya. Seruan ini sekaligus menjadi peringatan keras bagi para koruptor bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam dan akan terus melakukan upaya pemberantasan korupsi secara konsisten dan berkelanjutan.<\/p>\n<p>Presiden juga mengajak seluruh elemen bangsa, mulai dari aparat penegak hukum, pegawai negeri, pengusaha, hingga masyarakat umum, untuk bersama-sama membangun budaya antikorupsi dan menciptakan lingkungan yang tidak toleran terhadap praktik korupsi dalam bentuk apapun. Menurutnya, pemberantasan korupsi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aparat penegak hukum semata, melainkan membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat.<\/p>\n<h2>Pentingnya Persatuan dan Gotong Royong<\/h2>\n<p>Lebih lanjut, Prabowo mengajak seluruh komponen bangsa untuk senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan serta mengesampingkan perbedaan-perbedaan yang dapat memecah belah bangsa. Menurut pandangannya, kemajuan dan kejayaan Indonesia hanya dapat dicapai dan diwujudkan apabila seluruh elemen bangsa bersatu padu, bekerja sama secara sinergis, dan tidak terjebak dalam konflik maupun pertikaian yang tidak produktif. Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang besar dan maju adalah bangsa yang mampu mengelola keberagaman dan perbedaan secara arif dan bijaksana.<\/p>\n<p>&#8220;Tidak ada keberhasilan dengan pertikaian. Tidak ada. Untuk apa kita bertikai? Kita ini satu keluarga. Apapun latar belakang kita, apapun suku kita, apapun latar belakang kita, apapun partai kita,&#8221; pungkas Presiden dalam pidatonya yang sarat akan pesan persatuan dan kebersamaan. Pernyataan ini menjadi penutup yang kuat bagi pidato Presiden yang menekankan pentingnya gotong royong dan semangat kebersamaan dalam membangun bangsa.<\/p>\n<p>Seruan persatuan ini menjadi relevan di tengah dinamika politik dan sosial yang berkembang di Indonesia. Prabowo mengingatkan bahwa dalam menghadapi tantangan global dan persaingan ekonomi yang semakin ketat, Indonesia tidak boleh terpecah belah oleh perbedaan politik, suku, agama, maupun golongan. Semangat persatuan dan gotong royong yang merupakan warisan budaya bangsa harus terus dijaga dan dirawat sebagai modal sosial yang berharga dalam pembangunan nasional.<\/p>\n<p>Acara puncak Harkopnas ke-79 ini juga dihadiri oleh sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, pejabat tinggi negara, gubernur Bank Indonesia, pimpinan BUMN, serta tokoh-tokoh koperasi dan UMKM dari seluruh Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga memberikan penghargaan kepada koperasi-koperasi berprestasi yang telah berkontribusi secara signifikan dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengembangan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah di tanah air.<\/p>\n<h2>Respons Publik terhadap Pernyataan Presiden<\/h2>\n<p>Pernyataan Presiden Prabowo mengenai pentingnya gaji layak bagi aparatur negara mendapat respons positif dari berbagai kalangan masyarakat. Pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia menilai bahwa pernyataan Presiden menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mereformasi birokrasi dan menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih dan profesional. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa peningkatan gaji aparatur harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas, kinerja, dan akuntabilitas agar tidak terjadi pemborosan anggaran yang tidak perlu.<\/p>\n<p>Sementara itu, organisasi profesi guru, dokter, dan perawat menyambut baik perhatian Presiden terhadap kesejahteraan mereka. Mereka berharap bahwa pemerintah dapat segera merealisasikan janji tersebut melalui kebijakan anggaran yang konkret dan terukur. Ketua Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyatakan optimisme bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, kesejahteraan guru akan mendapatkan perhatian yang lebih serius dan proporsional.<\/p>\n<p>Di sisi lain, kalangan organisasi kemasyarakatan dan aktivis antikorupsi juga memberikan apresiasi terhadap pernyataan Presiden yang tegas dalam mengecam praktik korupsi. Mereka berharap pernyataan tersebut tidak hanya berhenti pada retorika politik belaka, melainkan diikuti dengan tindakan nyata dan penegakan hukum yang adil dan tanpa pandang bulu terhadap para koruptor, termasuk mereka yang berasal dari kalangan pejabat tinggi dan elite politik.<\/p>\n<h2>Analisis: Dampak Kebijakan Gaji Layak terhadap Pemberantasan Korupsi<\/h2>\n<p>Pernyataan Presiden Prabowo mengenai korelasi antara kesejahteraan aparatur dan pencegahan korupsi memiliki dasar yang kuat secara teoretis dan empiris. Dalam studi-studi kebijakan publik, terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kesejahteraan pegawai negeri dengan tingkat integritas dan kinerja mereka. Pegawai yang mendapatkan kompensasi yang layak dan memadai cenderung memiliki loyalitas dan dedikasi yang lebih tinggi terhadap institusi tempat mereka bekerja, serta lebih kecil kemungkinannya untuk terlibat dalam praktik korupsi dan penyalahgunaan wewenang.<\/p>\n<p>Namun, perlu diingat bahwa kebijakan peningkatan gaji saja tidak cukup tanpa diiringi dengan penguatan sistem pengawasan, penegakan hukum yang tegas dan konsisten, serta pembangunan budaya integritas yang kuat di seluruh lapisan birokrasi. Reformasi birokrasi yang komprehensif, transparan, dan berkelanjutan merupakan prasyarat mutlak untuk menciptakan pemerintahan yang bersih, efisien, dan melayani. Kombinasi antara peningkatan kesejahteraan aparatur dan penguatan sistem pengawasan akan menciptakan efek sinergis yang jauh lebih efektif dalam mencegah dan memberantas korupsi dibandingkan jika hanya mengandalkan salah satu pendekatan saja.<\/p>\n<h2>Sumber<\/h2>\n<p>Artikel ini disusun berdasarkan informasi dan data yang diperoleh dari JawaPos.com melalui tautan berikut: <a href=\"https:\/\/www.jawapos.com\/politik\/2607130111\/prabowo-tni-polri-dan-asn-harus-digaji-layak-agar-tak-memeras-rakyat-dan-korupsi\" target=\"_blank\" rel=\"nofollow\">Prabowo: TNI-Polri dan ASN Harus Digaji Layak agar Tak Memeras Rakyat dan Korupsi &#8211; JawaPos.com<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2014 Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kesejahteraan aparatur negara sebagai langkah strategis dalam mencegah praktik pemerasan dan tindak pidana korupsi di tubuh birokrasi. Dalam pidatonya yang penuh semangat, Kepala Negara menyatakan bahwa pemberian gaji yang layak bagi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara RI (Polri), Aparatur Sipil Negara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":571,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[],"class_list":["post-591","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/insanindonesia.web.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/591","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/insanindonesia.web.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/insanindonesia.web.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/insanindonesia.web.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=591"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/insanindonesia.web.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/591\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/insanindonesia.web.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/571"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/insanindonesia.web.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=591"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/insanindonesia.web.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=591"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/insanindonesia.web.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=591"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}