Dunia Ramai-ramai Menikam Amerika, Visa dan Mastercard Kehilangan Tahta Pembayaran Global

Written by

in

Dominasi perusahaan pembayaran asal Amerika Serikat, Visa dan Mastercard, di pasar pembayaran global mulai goyah. Sejumlah negara di berbagai belahan dunia ramai-ramai mengembangkan sistem pembayaran domestik dan regional yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada raksasa pembayaran AS. Langkah ini dipicu oleh kekhawatiran akan sanksi ekonomi sepihak yang bisa dijatuhkan AS melalui kontrol atas sistem pembayaran global, serta keinginan untuk melindungi data keuangan warga negara dari pengawasan asing.

China melalui UnionPay, India dengan RuPay, dan Rusia dengan Mir telah memimpin gerakan ini. Kini sejumlah negara lain seperti Brasil, Indonesia, negara-negara Teluk, dan beberapa negara Eropa juga mulai mengembangkan atau memperkuat sistem pembayaran domestik mereka. Fenomena ini oleh para analis disebut sebagai “de-dollarization” dalam industri pembayaran, di mana pangsa pasar Visa dan Mastercard diperkirakan akan terus tergerus dalam dekade mendatang.

Volume transaksi melalui sistem pembayaran non-Visa/Mastercard diperkirakan akan tumbuh 15-20 persen per tahun dalam lima tahun ke depan. Pertumbuhan ini didorong oleh kebijakan pemerintah yang mewajibkan penggunaan sistem pembayaran domestik untuk transaksi tertentu, serta kesadaran masyarakat akan pentingnya kedaulatan data dan keamanan finansial nasional.

Negara-negara yang Bergerak Mandiri

India menjadi salah satu contoh paling sukses dalam pengembangan sistem pembayaran mandiri. RuPay yang diluncurkan oleh National Payments Corporation of India (NPCI) kini telah menguasai lebih dari 30 persen pangsa pasar kartu debit di India. Keberhasilan ini didorong oleh kebijakan pemerintah yang mewajibkan penggunaan RuPay untuk kartu jaminan sosial dan program bantuan sosial. India juga mengembangkan Unified Payments Interface (UPI) yang memungkinkan pembayaran real-time melalui ponsel tanpa perlu kartu fisik.

China melalui UnionPay telah menjadi salah satu jaringan pembayaran terbesar di dunia, bahkan melampaui Visa dalam hal volume transaksi di pasar domestik China. UnionPay kini diterima di lebih dari 180 negara dan terus memperluas jaringannya ke luar China. Pemerintah China juga mendorong penggunaan sistem pembayaran domestik untuk semua transaksi pemerintah dan transaksi internasional dengan negara-negara mitra dagang utama.

Rusia setelah invasi ke Ukraina dan sanksi Barat yang membekukan aset bank sentral Rusia, beralih ke sistem Mir yang dikembangkan oleh Bank Sentral Rusia. Meskipun masih terbatas penggunaannya di luar Rusia, Mir telah menjadi tulang punggung sistem pembayaran domestik Rusia. Sejumlah negara seperti Turki, Iran, dan beberapa negara Asia Tengah mulai menerima kartu Mir.

Dampak bagi Visa dan Mastercard

Pergeseran lanskap pembayaran global ini tentu berdampak signifikan pada pendapatan Visa dan Mastercard. Kedua perusahaan yang berbasis di AS ini selama puluhan tahun mendominasi pasar pembayaran global dengan pangsa pasar gabungan sekitar 70-80 persen dari total transaksi kartu di dunia. Namun dominasi ini kini terancam oleh pertumbuhan sistem pembayaran alternatif yang didorong oleh sentimen geopolitik dan nasionalisme ekonomi.

Visa dan Mastercard telah merespons dengan berbagai strategi, termasuk investasi teknologi, akuisisi perusahaan fintech lokal di berbagai negara, dan penawaran layanan nilai tambah. Kedua perusahaan juga berupaya membangun kemitraan dengan sistem pembayaran domestik untuk tetap relevan di pasar-pasar yang mulai membatasi operasi mereka. Namun langkah ini mungkin tidak cukup untuk mengimbangi tren global menuju kemandirian sistem pembayaran.

Para analis memperkirakan bahwa dalam 10 tahun ke depan, skema pembayaran global akan menjadi lebih terfragmentasi dengan masing-masing kawasan memiliki sistem pembayaran andalannya sendiri. Visa dan Mastercard kemungkinan besar tidak akan sepenuhnya hilang, tetapi pangsa pasar mereka akan berkurang secara signifikan. Konsumen dan bisnis di masa depan mungkin perlu memiliki beberapa kartu atau aplikasi pembayaran dari berbagai sistem berbeda untuk bertransaksi di berbagai negara.

Sumber: CNBC Indonesia

Array

Strategi Visa dan Mastercard Bertahan di Tengah Fragmentasi Pasar

Menghadapi tekanan dari berbagai negara yang mulai mengembangkan sistem pembayaran independen, Visa dan Mastercard tidak tinggal diam. Kedua perusahaan raksasa ini telah menggelontorkan investasi miliaran dolar untuk memperkuat infrastruktur teknologi mereka, termasuk pengembangan sistem pembayaran berbasis blockchain dan kecerdasan buatan untuk mendeteksi fraud secara real-time. Mereka juga gencar melakukan akuisisi terhadap perusahaan fintech lokal di berbagai negara untuk mempertahankan pangsa pasar.

Salah satu strategi yang paling menonjol adalah kemitraan dengan sistem pembayaran domestik di berbagai negara. Di India, Visa bekerja sama dengan RuPay untuk menyediakan kartu co-branded yang bisa digunakan di jaringan domestik dan internasional. Di Indonesia, kedua perusahaan juga menjalin kerja sama dengan Himbara untuk mengintegrasikan layanan mereka dengan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN). Strategi ini memungkinkan Visa dan Mastercard untuk tetap relevan tanpa harus bersaing langsung dengan sistem domestik yang dilindungi pemerintah.

Namun para analis memperingatkan bahwa strategi ini mungkin hanya bersifat sementara. Seiring dengan semakin matangnya sistem pembayaran domestik, negara-negara tersebut kemungkinan akan mengurangi ketergantungan mereka pada mitra asing. China adalah contoh paling nyata, di mana UnionPay yang awalnya bekerja sama dengan Visa kini telah sepenuhnya mandiri dan bahkan mulai berekspansi ke pasar internasional dengan menjadi pesaing langsung Visa dan Mastercard.

Fragmentasi sistem pembayaran global membawa implikasi yang kompleks bagi konsumen dan bisnis. Di satu sisi, konsumen di negara-negara berkembang akan mendapatkan biaya transaksi yang lebih murah karena berkurangnya ketergantungan pada Visa dan Mastercard yang selama ini menerapkan biaya antarnegara yang relatif tinggi. Namun di sisi lain, wisatawan dan pebisnis yang sering bepergian ke luar negeri mungkin akan menghadapi kesulitan karena kartu domestik mereka tidak diterima di negara lain. Bagi bisnis e-commerce global, fragmentasi ini menjadi tantangan tersendiri. Platform seperti Amazon, Alibaba, dan Shopee harus mendukung berbagai sistem pembayaran yang berbeda di setiap negara tempat mereka beroperasi. Hal ini meningkatkan kompleksitas teknis dan biaya operasional yang pada akhirnya bisa berdampak pada harga barang bagi konsumen.

Implikasi Fragmentasi Sistem Pembayaran bagi Konsumen Indonesia

Bagi konsumen Indonesia, fragmentasi sistem pembayaran global membawa angin segar sekaligus tantangan. Di sisi positif, Bank Indonesia melalui Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) terus mendorong penggunaan sistem pembayaran domestik yang lebih murah dan efisien. Biaya transaksi antar bank di dalam negeri menjadi lebih terjangkau karena tidak perlu melalui jaringan Visa atau Mastercard. Hal ini sangat menguntungkan bagi UMKM yang selama ini mengeluhkan tingginya biaya merchant discount rate (MDR) yang diterapkan oleh perusahaan pembayaran asing.

Namun di sisi lain, konsumen Indonesia yang sering bepergian ke luar negeri mungkin akan menghadapi kendala karena kartu debit atau kredit domestik belum tentu diterima di negara lain. Saat ini baru Bank Mandiri, BCA, dan BNI yang kartu debitnya bisa digunakan di luar negeri melalui jaringan Visa dan Mastercard. Bank-bank kecil yang menerbitkan kartu GPN murni belum bisa digunakan untuk transaksi internasional. Pemerintah melalui Bank Indonesia terus mendorong kerja sama bilateral dengan negara-negara tetangga untuk saling menerima sistem pembayaran masing-masing.

Perkembangan dompet digital seperti GoPay, OVO, DANA, dan LinkAja juga menjadi alternatif yang semakin populer di kalangan masyarakat Indonesia. Metode pembayaran berbasis QR code melalui QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang dikembangkan oleh Bank Indonesia telah menjadi standar pembayaran nontunai di Indonesia dan mulai diadopsi di beberapa negara ASEAN. Hal ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memimpin dalam pengembangan sistem pembayaran regional yang independen dari Visa dan Mastercard.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *