Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit sebesar US$ 1,61 miliar. Angka ini mengakhiri catatan surplus perdagangan yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut atau enam tahun lamanya sejak tahun 2020.
Defisit ini menjadi sinyal perubahan signifikan dalam kinerja perdagangan luar negeri Indonesia. Pada Mei 2025 Indonesia masih mencatat surplus sebesar US$ 4,3 miliar, dan pada April 2026 surplus tipis US$ 89,1 juta. Artinya, dalam waktu satu bulan, neraca perdagangan berbalik drastis dari surplus menjadi defisit yang cukup dalam.
Penyebab utama defisit ini adalah lonjakan impor yang signifikan, terutama pada sektor minyak dan gas bumi (migas). Impor migas melonjak seiring kenaikan harga minyak mentah dunia dan peningkatan kebutuhan bahan bakar untuk sektor industri dalam negeri yang terus tumbuh. Di sisi lain, ekspor Indonesia mengalami perlambatan akibat melemahnya permintaan dari negara mitra dagang utama dan turunnya harga komoditas andalan ekspor seperti batu bara dan kelapa sawit.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan menyatakan bahwa defisit yang terjadi saat ini diperkirakan hanya bersifat sementara. Pemerintah sudah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk mendorong ekspor dan mengurangi impor barang yang tidak esensial. Berbagai insentif diberikan kepada eksportir untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Para ekonom memproyeksikan neraca perdagangan Indonesia berpotensi kembali mencatat surplus pada kuartal III tahun 2026. Pemulihan ekonomi global yang diperkirakan terjadi pada paruh kedua tahun ini dan program hilirisasi industri yang terus berjalan diharapkan dapat mendorong kinerja ekspor nasional secara signifikan.
Pemerintah terus mendorong pengembangan produk manufaktur bernilai tambah tinggi serta perluasan pasar ekspor ke negara-negara nontradisional seperti kawasan Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah. Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat fundamental perdagangan Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada pasar ekspor tradisional.
Sektor industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor nasional dengan kontribusi yang terus meningkat terhadap total ekspor Indonesia. Program hilirisasi yang digalakkan pemerintah mulai menunjukkan hasil positif dengan meningkatnya ekspor produk turunan seperti nikel olahan dan turunan kelapa sawit bernilai tambah tinggi.
Dari sisi neraca pembayaran, defisit perdagangan ini menjadi perhatian bagi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Meskipun demikian, cadangan devisa Indonesia masih dalam posisi yang cukup aman untuk mengantisipasi tekanan eksternal yang mungkin timbul akibat defisit ini.
Para pelaku pasar dan investor diharapkan tetap tenang merespons data defisit ini karena fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong kuat dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran lima persen dan inflasi yang terkendali dalam rentang sasaran pemerintah.





