Beranda / Ekonomi & Bisnis / Rupiah Tertekan Nyaris Tembus Rp18.000 Imbas PMI Manufaktur Kontraksi

Rupiah Tertekan Nyaris Tembus Rp18.000 Imbas PMI Manufaktur Kontraksi

Pelemahan Terdalam Dipicu Data Manufaktur yang Buruk

Jakarta, Insan Indonesia — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Kamis (2/7/2026) hingga nyaris menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi setelah data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global menunjukkan kontraksi yang dalam.

Mengutip data Bloomberg, rupiah melemah 43 poin atau 0,24 persen ke level Rp17.995 per dolar AS pada penutupan perdagangan. Angka ini mendekati level terendah sepanjang masa yang pernah dicapai rupiah pada awal Juni 2026, ketika mata uang Garuda sempat menyentuh level Rp18.000-an per dolar AS.

PMI Manufaktur Terkontraksi ke Level 46,9

Data S&P Global menunjukkan bahwa PMI Manufaktur Indonesia pada Juni 2026 berada di level 46,9, turun signifikan dari level 50,0 pada Mei 2026. Angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi aktivitas bisnis di sektor manufaktur. Ini merupakan tingkat penurunan yang paling kuat dalam satu tahun terakhir.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh menurunnya permintaan baru yang masuk, yang pada gilirannya menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak April 2025. “Data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di 46,9 pada Juni 2026. Ini adalah tingkat penurunan yang paling kuat dalam setahun,” kata Ibrahim.

Faktor-faktor yang Memperberat Rupiah

Selain data PMI yang buruk, sejumlah sentimen negatif lainnya turut membebani rupiah. Kasus korupsi tingkat tinggi yang melibatkan pejabat publik, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah pasca defisit neraca perdagangan, lonjakan inflasi, serta penundaan pengumuman MSCI mengenai pasar modal Indonesia menjadi faktor-faktor yang menekan kepercayaan investor.

Para pelaku pasar juga mencermati kebijakan moneter di negara-negara maju, khususnya sikap hawkish bank sentral AS (The Fed) yang berpotensi menahan suku bunga tinggi lebih lama. Hal ini mendorong aliran modal keluar dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Prospek dan Antisipasi

Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan segera mengambil langkah-langkah strategis untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Intervensi di pasar valuta asing, penyesuaian suku bunga acuan, serta penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi instrumen yang dapat digunakan untuk menahan pelemahan rupiah lebih lanjut.

Ibrahim Assuaibi memperkirakan bahwa rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.990 hingga Rp18.050 per dolar AS dalam waktu dekat, tergantung pada perkembangan data ekonomi domestik dan global. Para pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada terhadap fluktuasi nilai tukar yang masih berpotensi terjadi.

Sumber: Republika.co.id

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *