Penurunan Bulanan Namun Pertumbuhan Tahunan Signifikan
Jakarta, Insan Indonesia — Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru mengenai jumlah penumpang angkutan kereta api di Indonesia. Meskipun mengalami penurunan pada Mei 2026 dibandingkan bulan sebelumnya, secara kumulatif periode Januari hingga Mei 2026 mencatat angka yang impresif.
BPS mencatat jumlah penumpang kereta yang mencakup layanan di Jawa dan luar Jawa, termasuk kereta bandara, MRT, LRT, serta kereta cepat Whoosh, mencapai 47 juta orang pada Mei 2026 atau turun 2,73 persen secara bulanan dibandingkan April 2026 yang mencapai 48,28 juta orang.
Total Kumulatif Capai 234,8 Juta
Meskipun terjadi penurunan bulanan, secara kumulatif sepanjang Januari hingga Mei 2026, total penumpang kereta mencapai 234,8 juta orang. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 8,58 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025. Data ini mengindikasikan bahwa moda transportasi berbasis rel masih menunjukkan pertumbuhan yang positif dalam jangka panjang.
BPS mencatat bahwa penurunan pada Mei 2026 terjadi setelah jumlah penumpang kereta pada April 2026 mencapai angka tertinggi. Kendati secara bulanan mengalami koreksi, penggunaan transportasi kereta sepanjang lima bulan pertama tahun ini masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Komuter Jabodetabek Mendominasi
Data BPS menunjukkan bahwa sebagian besar penumpang kereta pada Mei 2026 masih berasal dari layanan komuter Jabodetabek. Jumlahnya mencapai 29 juta orang atau sekitar 61,68 persen dari total penumpang kereta nasional. Besarnya kontribusi penumpang komuter ini menunjukkan bahwa perjalanan harian masyarakat di kawasan metropolitan Jakarta masih menjadi tulang punggung angkutan perkeretaapian nasional.
Namun, dibandingkan April 2026, jumlah penumpang komuter Jabodetabek justru mengalami penurunan sebesar 5,30 persen. Pada April jumlahnya tercatat 30,59 juta orang, kemudian turun menjadi 28,97 juta orang pada Mei 2026.
Penurunan di Berbagai Layanan
Penurunan juga terjadi pada sejumlah layanan angkutan rel lainnya. Jumlah penumpang kereta bandara turun 3,94 persen dari 776.900 orang menjadi 746.300 orang. Layanan MRT Jakarta juga mengalami penurunan tipis sebesar 0,55 persen, dari 3,88 juta orang menjadi 3,86 juta orang. Sementara itu, LRT menjadi moda yang mengalami penurunan terdalam, yang perlu menjadi perhatian bagi para pengelola transportasi publik.
Meskipun terjadi penurunan di berbagai sektor, secara keseluruhan tren penggunaan transportasi kereta api di Indonesia masih menunjukkan prospek yang positif. Pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas layanan dan infrastruktur perkeretaapian untuk mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik yang lebih ramah lingkungan dan efisien.
Sumber: Kompas.com





